Langsung ke konten utama

Digitization in Agriculture, Case Study: Indonesia

To increase ICT utilization, the Ministry of Communication and Informatics (MCI) has launched the "Digital Transformation Program of Strategic Sectors". Strategic sectors consist of agriculture, maritime, health, tourism, and logistic. This program collaborates with many stakeholders such as ministries/institutions, local government, and startup digital companies. Demographers predict that around 9.8 billion people will live on Earth in the year 2050 – and with today’s agricultural methods it is not possible to provide for such an enormous number. Agriculture must use digital tools and close cooperation with industry.  

Now that digital technology is applied not only to digital applications but also to the harness of the Internet of Things (IoT) like soil and weather sensors, water discharge sensors, land mapping, and drone surveillance. The Digital Transformation Program of the Agricultural Strategic Sector focuses on the utilization of digital technology in the agriculture field for farmers who have less than 2 hectares of land and plant rice, corn, chili, and onion. Implementation of digital technology in the agriculture field has a value chain from upstream to downstream that is expected to increase production yield and carry out the efficiency of production cost. This is due to digital technology can provide information in real-time about the environmental conditions and giving recommendations based on necessity (precision farming).


The value chain in the agriculture sector has four primary activities namely provision of inputs (provision of capital, material, and technical land preparation),  production (technical planting and maintenance), post-production (technical harvest), and sales (retail/e-commerce). Four activities have digital solutions for commodities of food and horticulture crops that can be implemented in Indonesia for example provision of capital and material, technical land preparation, technical maintenance, and e-commerce. Last year, MCI facilitated farmers to harness soil and weather sensors in West Pasaman Regency, Malang City, and Central Lombok Regency. 

Soil and weather sensors can provide fertilization recommendations, irrigation, and preventive action. The preventive actions include pesticide provision to control pests or diseases through automatic daily logging parameters such as soil temperature, environment temperature, wind speed, wind direction, electrical conductivity, and soil humidity. All parameters can be accessed with android devices by each farmer.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyelenggaraan Agen Elektronik

Pada hari Jumat tanggal 23 Agustus, telah dilakukan pembahasan tentang RPM tata cara pendaftaran penyelenggaraan agen elektronik, RPM ini merupakan turunan dari PP PSTE Nomor 82 Tahun 2012. Untuk memahami lebih lanjut, terlebih dahulu kita musti kenal apa itu agen elektronik. Berdasarkan aturan tersebut, agen elektronik adalah perangkat dari suatu sistem elektronik yang dibuat untuk melakukan suatu tindakan terhadap suatu informasi elektronik tertentu secara otomatis yang diselenggarakan oleh orang. Sedangkan definisi penyelenggara agen elektronik adalah setiap orang, penyelenggara negara, dan badan usaha, yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan agen elektronik untuk dimanfaatkan oleh pengguna jasa. Jenis agen elektronik antara lain: mesin ATM, EDC ( electrical data capture) seperti kartu gesek, tempel, NFC, mesin dan sistem barcode recognition yang kesemuanya menjalankan fungsi otomatisasi dari sebuah sistem elektronik. Ruang lingkup agen elektronik yang diatur ada...

Yuk Pelajari Analis Kebijakan Muda

Hari ini saya ingin membahas tentang Apa itu JFT Analis Kebijakan dan bagaimana juknisnya. Saya adalah salah satu dari ratusan ASN di Kementerian Kominfo yang dulunya struktural berubah menjadi fungsional. Hal ini tentu saja membuat kami rada bingung dalam menyusun telaahan staf, policy brief, policy paper, Karya Tulis Ilmiah, dan berbagai produk analis kebijakan. Saya rasanya sudah banyak mengikuti beberapa bimtek baik di you tubenya LAN sebagai instansi pembina maupun pelatihan dari internal organisasi. Namun, memang seorang analis kebijakan semakin paham dalam menyusun  analisis terhadap kebijakan apabila sudah mencoba menulis (learning by doing) lalu kita pun harus lebih rajin untuk menyimpan bukti administrasinya. Ada beberapa peraturan yang kudu dibaca dan dipahami oleh JFT Analis Kebijakan yaitu PermenpanRB Nomor 45 Tahun 2013 tentang JF Anjak Peraturan Kepala LAN Nomor 14 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis  Penilaian Kualitas Hasil Kegiatan Analis Kebijakan Peraturan K...

Kesiapan Industri e-Business menuju IPV6

Seiring dengan pertumbuhan industri Internet di Indonesia, baik disadari maupun tidak, kebutuhan akan alamat Internet Protocol (IP) juga akan meningkat. Operator Internet membutuhkan alamat IP untuk mengembangkan layanannya hingga ke pelosok negeri. Jaringan Internet di Indonesia berikut perangkat-perangkat pendukungnya hingga di tingkat end user masih menggunakan IPv4. Kenyataan yang dihadapi dunia sekarang adalah menipisnya persediaan alamat IPv4 yang dapat dialokasikan. Jumlah alamat yang dapat didukung oleh IPv4 adalah 2 32 bits, sedangkan data terakhir pada waktu penulisan dokumen ini tersisa 7% saja di tingkat Internet Assigned Numbers Authority, organisasi yang mengelola sumberdaya protokol Internet dunia. Negara-negara lain sudah menyadari situasi ini sejak awal dekade dan telah memilih untuk beralih ke protokol IPv6. Teknologi IPv6 adalah protokol untuk next generation Internet. IPv6 didesain sedemikian rupa untuk jauh melampaui kemampuan IPv4 yang umum digunakan...