Langsung ke konten utama

Ekonomi Digital

Awal Januari mencoba belajar ilmu dasar ekonomi digital berdasarkan Digital Economy Report 2019, UNCTAD. Berikut ini beberapa rangkumannya


Evolusi konsep ekonomi digital yang dikaitkan dengan adopsi teknologi yang memiliki dampak terhadap perekonomian, beberapa tahun belakangan ini malah focus kepada konsep digitalisasi teknologi, produk dan jasa, teknik serta keahlian yang berkaitan dengan sektor ekonomi.

Adapun komponen utama dari ekonomi digital terbagi atas 3 komponen utama:
  1. Aspek Inti (Core Aspect) atau aspek dasar dari ekonomi digital yang berdasarkan inovasi dasar ( semi konduktor, prosesor), teknologi inti (computer, telekomunikasi, alat) serta infrastruktur pendukung (jaringan internet dan telekomunikasi).
  2. Sektor Digital dan TIK yang berkaitan dengan produk/layanan utama terhadap teknologi inti termasuk platform digital, aplikasi mobile, dan layanan pembayaran
  3. Perluasan digitalisasi sektor dimana produk dan jasa digital meningkat penggunaannya sebagai contoh e-commerce. Apabila perubahan meningkat, maka sektor ekonomi juga akan terdigitalisasi misalnya keuangan, media, pariwisata dan transportasi.
Beberapa komponen dapat digunakan untuk mengukur peluasan dan dampak ekonomi digital. Pada level dasar , focus metodologi dengan pengukuran sektor TIK/digital yang dapat dihubungkan dengan nilai investasi, adopsi broadband) serta dikorelasikan dengan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal pengukuran ekonomi digital berdasarkan digitalisasi sektor lebih sulit. Pengukuran dampak penggunaan teknologi harus berdasarkan hasil dari spillover effects dan intangible outcomes misalnya fleksibilitas usaha, pendekatan manajemen atau produktivitas) yang bergantung dengan beberapa variable. Ada beberapa studi yang menilai digitalisasi dengan menggunakan survey dan data e-commerce yang dibandingkan dengan spillover effects dari sektor digital/TIK yang berkaitan dengan aspek ekonomi, atau dengan perubahan geografis data dan pengetahuan global.  Pendekatan ini memiliki keterbatasan dalam hal metodologi dan kurangnya statistic yang valid.

Knichrehm et al (2016) mendefinisikan fondasi ekonomi digital dalam pemahaman yang lebih luas, output ekonomi berasal dari  jumlah input digital yang terdiri atas keahlian digital, peralatan digital (perangkat keras, perangkat lunak, dan alat komunikasi), serta intermediasi produk dan jasa digital yang digunakan dalam produksi.

Ada beberapa level yang berbeda atas infrastruktur digital:
  1. Jaringan TIK (Infrastruktur Digital inti untuk konektivitas)
  2. Infrastruktur Data (pusat data, kabel bawah laut, dan infrastruktur cloud)
  3. Platform digital
  4. Peralatan dan Aplikasi Digital

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyelenggaraan Agen Elektronik

Pada hari Jumat tanggal 23 Agustus, telah dilakukan pembahasan tentang RPM tata cara pendaftaran penyelenggaraan agen elektronik, RPM ini merupakan turunan dari PP PSTE Nomor 82 Tahun 2012. Untuk memahami lebih lanjut, terlebih dahulu kita musti kenal apa itu agen elektronik. Berdasarkan aturan tersebut, agen elektronik adalah perangkat dari suatu sistem elektronik yang dibuat untuk melakukan suatu tindakan terhadap suatu informasi elektronik tertentu secara otomatis yang diselenggarakan oleh orang. Sedangkan definisi penyelenggara agen elektronik adalah setiap orang, penyelenggara negara, dan badan usaha, yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan agen elektronik untuk dimanfaatkan oleh pengguna jasa. Jenis agen elektronik antara lain: mesin ATM, EDC ( electrical data capture) seperti kartu gesek, tempel, NFC, mesin dan sistem barcode recognition yang kesemuanya menjalankan fungsi otomatisasi dari sebuah sistem elektronik. Ruang lingkup agen elektronik yang diatur ada...

Yuk Pelajari Analis Kebijakan Muda

Hari ini saya ingin membahas tentang Apa itu JFT Analis Kebijakan dan bagaimana juknisnya. Saya adalah salah satu dari ratusan ASN di Kementerian Kominfo yang dulunya struktural berubah menjadi fungsional. Hal ini tentu saja membuat kami rada bingung dalam menyusun telaahan staf, policy brief, policy paper, Karya Tulis Ilmiah, dan berbagai produk analis kebijakan. Saya rasanya sudah banyak mengikuti beberapa bimtek baik di you tubenya LAN sebagai instansi pembina maupun pelatihan dari internal organisasi. Namun, memang seorang analis kebijakan semakin paham dalam menyusun  analisis terhadap kebijakan apabila sudah mencoba menulis (learning by doing) lalu kita pun harus lebih rajin untuk menyimpan bukti administrasinya. Ada beberapa peraturan yang kudu dibaca dan dipahami oleh JFT Analis Kebijakan yaitu PermenpanRB Nomor 45 Tahun 2013 tentang JF Anjak Peraturan Kepala LAN Nomor 14 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis  Penilaian Kualitas Hasil Kegiatan Analis Kebijakan Peraturan K...

Kesiapan Industri e-Business menuju IPV6

Seiring dengan pertumbuhan industri Internet di Indonesia, baik disadari maupun tidak, kebutuhan akan alamat Internet Protocol (IP) juga akan meningkat. Operator Internet membutuhkan alamat IP untuk mengembangkan layanannya hingga ke pelosok negeri. Jaringan Internet di Indonesia berikut perangkat-perangkat pendukungnya hingga di tingkat end user masih menggunakan IPv4. Kenyataan yang dihadapi dunia sekarang adalah menipisnya persediaan alamat IPv4 yang dapat dialokasikan. Jumlah alamat yang dapat didukung oleh IPv4 adalah 2 32 bits, sedangkan data terakhir pada waktu penulisan dokumen ini tersisa 7% saja di tingkat Internet Assigned Numbers Authority, organisasi yang mengelola sumberdaya protokol Internet dunia. Negara-negara lain sudah menyadari situasi ini sejak awal dekade dan telah memilih untuk beralih ke protokol IPv6. Teknologi IPv6 adalah protokol untuk next generation Internet. IPv6 didesain sedemikian rupa untuk jauh melampaui kemampuan IPv4 yang umum digunakan...